DHINA, MENJADI MANUSIA

Denial itu?? #part1

Fase Denial, sempat aku tanyakan di storygram sama twitter beberapa waktu lalu. Aku pikir ga akan ada yang peduli sama pertanyaan itu, tapi ternyata banyak yang dm dan whatsapp pengalaman Fase Denial mereka, kaget sih bisa banyak dapet cerita cuma-cuma, berasa abis borong buku dari puluhan storytellers. hehe

JUJUR! belajar (bersyukur) banyak banget. Kisah kita berbeda, tapi banyak ilmu ku curi (maaf yaa) mungkin di masa depan aku akan mengalami, Who knows?

Aku pribadi berterimakasih, kalian sudah mempercayakan hal yang bahkan mungkin kalian masing-masing sudah berusaha sekuat tenaga melupakan, tapi jujur setelah aku baca akupun merasakan emosi yang kalian rasakan, kalian hebat ya!!

lya, harus belajar untuk bisa jadi apa yang diri butuhkan. contoh paling relatableKalian butuh dukungan tapi ngerasa ga punya siapa-siapa walaupun sebenernya kalian punya tapi kondisi kurang awareMaka dari itu, dukunglah dirimu sendiri “because YOU are your biggest asset”.

Sekarang doa nya sederhana aja ya “Apapun yg Tuhan taruh dalam path hidup kedepannya, semoga selalu dikasi kekuatan buat ngadepin”. Belajar untuk lebih berserah & ikhlas sama apa yang akan dijalani.

I may not understand what the plan is; tapi yakin ini yang terbaik dari Yang Di Atas” gapapa kalau ini adalah cara Semesta untuk bertumbuh jauh lebih dewasa. Bahkan doaku “gapapa aku gapapa tapi tolong.. (bahkan, disela ujian aku masih tanpa malu meminta pada Tuhanku) kasih kekuatan aja, kasih kesibukan yang bener-bener sibuk, pertemukan sama hal-hal & orang baik, pertemukan aku dengan jalanMu, jangan jauh dan tinggalin aku, Ya, Tuhan?

Aku, bukan makhluk yang needy nan clingy sebenernya, hanya aku dibiasakan untuk-itu akhir-akhir ini, sama seperti kalian sudah adaptasi dengan keadaan (enak) yang akhirnya harus mendadak ga enak, butuh waktu buat “kembali seperti ini” but kadang hidup perlu hantaman atau masalah buat jadiin aku, dan kalian lebih mengerti ~ yaa ini hidup, harus siap, HARUS bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan.

kebanyakan cerita kalian, sama seperti yang aku alami, kita hanya perlu;

kelarin dulu masa lalu

kelarin dulu sakit hati

kelarin dulu semua luka lama 

kalo udah siap, baru mulai dengan yang baru
jangan tiba-tiba get over dari luka yang masih basah itu. Jangan.

Tau kenapa? Akan ada luka baru ketika berusaha tapi belum sembuh sepenuhnya, korbannya orang yang gatau apa-apa, lebih sering dibilang pelarian.

Coba, sibukan dengan memperbaiki kualitas hidup, bukan sibuk menilai kualitas orang lain. Karena percuma kamu menilai kualitas orang tapi kualitas hidupmu sendiri tidak begitu baik, simple-how can i answer ~kamu aja ga gentle sama diri sendiri, bagaimana bisa berharap orang lain mikirin kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *